Pengantar
Seseorang akan hidup penuh makna apabila jiwanya bersih. Maka beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya. Tidak hanya di dunia, bahkan di akhirat. Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya“. [asy Syams/91: 9,10]
Dalam rangka mensucikan jiwa tersebut, satu-satunya jalan yang harus ditempuh, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa syirik, dan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa melakukan bid’ah. Bagaimanakah sebenarnya hakikat ibadah yang diharapkan dengan memahaminya –bi idznillah- akan dapat membantu terwujudnya kesucian jiwa?
Syaikh Salim bin Id al Hilali dalam kitabnya, Madarij al Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah memaparkan jawabannya pada salah satu sub, berjudul Haqiqat al Ubudiyyah, pada halaman 13-20. Kitab yang diterbitkan oleh Daar ash Shumai’iy, Riyadh, KSA, Cet. II, 1424 H/2003 M. Diterjemahkan oleh Ahmas Faiz Asifuddin dengan bahasa bebas.
Berikut ini adalah pemaparan beliau yang menukil dari perkataan Syaikhul Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, al-Ubudiyyah. Semoga bermanfaat. (Redaksi).
___________________________________________________
Ibadah ialah ungkapan yang mencakup segala apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, batin maupun lahir. Shalat, zakat, shiyam (puasa), haji, benar dalam berkata, menunaikan amanat, berbuat baik kepada dua orang tua, memenuhi janji, amar ma’ruf-nahi mungkar, jihad melawan orang-orang kafir serta orang-orang munafik, berbuat kebajikan kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang tengah dalam perjalanan), dan kepada harta milik; baik berbentuk manusia maupun hewan ternak, juga berdoa, berdzikir, membaca al Qur`an dan kegiatan-kegiatan lain yang semisal, adalah termasuk ibadah.
Begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, kembali kepada-Nya, mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, sabar menerima hokum-Nya, bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Nya, ridha terhadap ketetapan takdir-Nya, tawakal, mengharap-harap rahmat-Nya, takut terhadap adzab-Nya, dan hal-hal lain yang sejenis, adalah termasuk ibadah.
Yang demikian itu karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Untuk maksud itulah Allah menciptakan makhluk. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepada-Ku“. [adz Dzariyat/51: 56].
Untuk membawa misi ibadah itu pulalah Allah mengutus para rasul-Nya –Shalawatullahi ‘alaihim sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu,’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya…” [an Nahl/16: 36].
Kemudian Allah menjadikan peribadatan itu sebagai ketetapan baku bagi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai wafatnya. Sebagaimana firman-Nya,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Sembahlah (ibadahilah) Rabb-mu hingga datang kematian kepadamu“. [al Hijr/15: 99]
Dengan sifat beribadah itu pula, Allah memberikan sifat kepada para malaikat serta para nabi-Nya –Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alaihim- sebagaimana firman-Nya,
وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ. يُسَبِّحُونَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَيَفْتُرُونَ
“Kepunyaan Allah-lah penghuni yang ada di langit-langit dan di bumi, sedangkan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat dan para nabi) tidak pernah sombong untuk beribadah kepadaNya dan tidak pernah lelah. Mereka senantiasa bertasbih malam dan siang tanpa ada putus-putusnya.” [al Anbiya'/21: 19-20].
Allah mencela oang-orang yang sombong -tidak mau beribadah kepada-Nya- dengan firman-Nya,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Rabb-mu telah berkata, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong –tidak mau- beribadah kepadaKu, akan masuk ke dalam Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [Ghafir/40: 60].
Ada sebuah hadits yang telah jelas keshahihannya dalam kitab Shahih, bahwa ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk seorang badui, Jibril bertanya kepada beliau tentang Islam. Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam menjawab,
الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Islam ialah bila engkau bersaksi bahwa, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, bila engkau mendirikan shalat, membayarkan zakat, bershiyam Ramadhan serta berhaji di Baitullah bila engkau mampu melakukan perjalanan kepadanya.”
Jibril bertanya lagi, “Kemudian apakah iman?” Beliau menjawab,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Yaitu apabila engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan kembali sesudah mati, dan apabila engkau beriman kepada taqdir; baiknya dan buruknya.”
Jibril bertanya lagi, “Kemudian apakah ihsan?” Beliau menjawab,
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Yaitu apabila engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Maka apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.”
Selanjutnya, di akhir hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
“Ini adalah Jiril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.”
Artinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan semua perkara dalam hadits di atas masuk dalam (pengertian) agama (din). Bahwa agama (din) mencakup makna tunduk dan merendahkan diri. Dengan demikian, agama Allah adalah, beribadah, taat dan tunduk-patuh kepada Allah.
Sementara itu, ibadah yang diperintahkan meliputi makna cinta dan makna merendahkan diri. Jadi, ibadah yang diperintahkan itu mencakup rasa cinta sebesar-besarnya kepada Allah Ta’ala, sekaligus dibarengi sikap merendahkan diri serendah-rendahnya.
Seandainya ada orang bertanya: Apabila semua yang dicintai Allah masuk dalam sebutan ibadah? Mengapa ada perkara lain yang disebutkan secara terpisah dan berurutan dengan ibadah? Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah al Fatihah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
(Maksudnya, meminta pertolongan termasuk ibadah, tetapi mengapa disebutkan secara terpisah dan berurutan dengan ibadah?, Pent.).
Contoh yang lain, misalnya adalah firman Allah kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ
“Beribadahlah kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya“. [Hud/11: 123].
Contah lainnya, perkataan Nuh,
أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ
“Beribadahlah kepada Allah dan bertakwalah serta taatlah kepada-Nya“. [Nuh/71: 3].
Demikian pula perkataan para rasul lain.
Maka pertanyaan seperti ini dijawab: Persoalan semacam itu sudah biasa pada contoh-contoh lain. Misalnya dalam firman Allah,
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan fahsya’ (keji) dan mungkar.” [al Ankabut/29: 45].
Padahal al fahsya’ (perbuatan keji) termasuk perbuatan mungkar.
Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berbuat adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan mencegah dari perbuatan fahsya’ (keji), mungkar dan melampaui batas.” [an Nahl/16: 90].
Memberi kepada kaum kerabat adalah bagian dari berbuat adil. Begitu juga berbuat fahsya’ (keji), dan melampaui batas adalah termasuk kemungkaran.
Misal yang lain, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ
“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat (akan di beri pahala).” [al A'raf/7: 170].
Mendirikan shalat adalah termasuk seagung-agungnya berpegang teguh pada al Kitab.
-Bersambung-
Penulis: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
Artikel www.Ustadzfaiz.com
